Oleh : Abi Priambudi (Mahasiswa Santuy)
Manusia lahir ke dunia dengan membawa banyak bekal,
bekal tersebut bisa berupa unsur fisik dan non fisik. Untuk yang berkaitan
dengan fisik tentunya manusia dapat melihat organ tubuh sendiri yang terdapat
tangan, kaki, kepala, dan bagian fisik lainnya. Sedangkan untuk non fisik ada
akal pikiran, suara, maupun perasaan. Tuhan telah menyediakan seluruhnya untuk
menunjang kebutuhan hidup manusia. Sejatinya, itu semua bertujuan untuk membantu
manusia menjalani dinamika kehidupan.
Berbicara tentang perasaan, perasaan identik dengan kata
emosi. Pada umumnya dapat disifatkan sebagai keadaan kejiwaan yang ada pada
individu atau organisme pada suatu waktu sebagai akibat adanya peristiwa atau
persepsi yang dialaminya. Menurut salah seorang tokoh barat Chaplin (1972)
perasaan adalah state individu sebagai akibat dari stimulus baik eksternal
maupun internal.
Secara umum perasaan berkaitan dengan persepsi, dan
merupakan reaksi terhadap stimulus yang mempengaruhinya. Acapkali dikatakan
bahwa perasaan bersifat subjektif apabila dibandingkan dengan peristiwa psikis
yang lain. Seseorang mengalami gejala perasaan seperti sedih, senang, marah,
takut setelah melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu lewat proses
penginderaan.
Terdapat tiga jenis golongan perasaan. Pertama, ada
perasaan presens yaitu perasaan yang timbul pada waktu sekarang (saat ini),
nyata sedang dihadapi, dan situasi aktual. Kedua, perasaan yang menjangkau
maju, yang merupakan dalam interpretasi dari situasi atau kejadian yang akan
datang, masih berbentuk khayalan atau pengharapan. Ketiga, perasaan yang
berkaitan dengan waktu yang telah terjadi di masa lampau yaitu perasaan yang
timbul dengan melihat kembali kejadian yang telah terjadi di masa lampau.
Sembari membayangkan kembali segala situasi di masa lalu.
Perasaan seringkali dikaitkan dengan hal yang
berkaitan dengan masa lalu, seperti seorang yang merasa sedih atau membayangkan
hal lainnya ketika menarik kisah yang pernah terjadi, bahasa sederhana yang
sering digunakan adalah flashback. Sebab dengan mengingat kembali ke belakang
manusia bisa mengambil pelajaran terbaik dari perjalanannya. Kata seorang
filosof guru terbaik berasal dari pengalaman. Maka tidak heran manusia sangat
menikmati fantasi masa lalunya. Peran perasaan mempengaruhi kehidupan manusia.
Baik masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
Instrumen perasaan cukup sensitif di dalam kehidupan
nyata. Seringkali kita membawa instrumen ini dalam menghadapi situasi atau persoalan
dinamika kehidupan. Kehidupan sosial yang manusia perankan tak luput dari
kontribusi emosi dan mood. Perasaan menyajikan kondisi jiwa agar membuat hidup
lebih berwarna.
Kata seorang sastrawan, Manusia hidup di dunia
sastra, menjalankan lakonnya pada panggung sandiwara. Panjang dan pelik
perjalanan hidup berjalan beriringan dengan suatu yang dirasakan manusia (mood),
dengan dianugerahkan panca indra manusia dapat merasakan segala hal dalam
hidup. Seyogyanya dengan anugerah yang telah diberikan individu bisa mengambil
pesan berharga dari sifat perasaan. Seperti bisa menjaga perasaan atau hati
orang lain, dengan tidak menyakiti atau menyinggung orang tersebut.
Perasaan berlebih yang muncul harus bisa dikontrol
agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Bijak dalam menjaga hati
dan mengontrol penggunaan panca indra bertujuan agar individu dapat hidup
harmonis dengan individu ataupun kelompok masyarakat lainnya. Kerukunan akan
tercapai bilamana manusia bisa saling menjaga perasaan, dengan begitu akan
meminimalisir perselisihan dan konflik.
Ada stigma yang berlaku di masyarakat, tentang
anggapan negatif dari mengandalkan perasaan berlebih. Instrumen perasaan yang
tak terkendali biasanya di anggap buruk bagi kepribadian. Karakter yang muncul
pun tidak mencerminkan individu yang baik. Stigma tersebut bisa berupa
temperamen (mudah marah), cemburu, iri atau dengki terhadap orang yang dianggap
memiliki kelebihan, egosektoral, mudah tersinggung, hingga mudah menangis
(cengeng). Seseorang yang memperlakukan dan diperlakukan seperti hal diatas
sering mendapat pandangan buruk di masyarakat.
Konstruksi pola perilaku yang baik harus menghindari
sifat buruk perasaan seperti diatas. Apalagi jika perasaan mempengaruhi
tindakan dan perbuatan seseorang menjadi negatif atau buruk. Hal-hal tersebut
merupakan semacam tatanan nilai atau norma yang berlaku di masyarakat setempat.
Para dewasa melatih dan mendidik anak-anaknya sebagai generasi penerus untuk
mencegah perasaan berlebih dalam menjalani kehidupan sosialnya. Kepribadian
yang dianggap buruk tersebut biasanya dijadikan contoh sebagai pedoman agar
tidak ditiru oleh anak-anaknya.




