Oleh : Abi Priambudi (Mahasiswa Santuy)
Kata literasi identik dengan membaca dan menulis.
Literasi erat kaitannya dengan dunia pendidikan, Menurut National Institute for
Literacy, definisi dari literasi merupakan kemampuan individu untuk membaca,
menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian
yang diperluhkan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Definisi tersebut
memaknai literasi sebagai keterampilan seseorang dalam hal yang berkaitan
dengan kehidupan sosial. Penting bagi setiap orang menguasai suatu bidang atau
aspek, untuk bisa mencapai hal tersebut membutuhkan kemampuan, kemampuan yang
dapat diperoleh dengan meningkatkan budaya literasi. Dengan rajin membaca
manusia dapat menambah wawasan dan memperluas ilmu pengetahuan serta membuat
pembaca semakin kritis terhadap dinamika pengetahuan baru. Hobi membaca mampu
mengantarkan manusia ke kehidupan yang lebih baik.
Minat masyarakat Indonesia terhadap dunia literasi
bisa dikatakan cukup buruk, terbukti dengan perolehan data dari survey yang di
lakukan PISA bahwa angka literasi Indonesia dalam posisi yang mengkhawatirkan.
Dengan menduduki peringkat 64 dari 65 Negara, juga dalam penelitian yang sama,
pada bidang membaca Indonesia menempatkan peringkat 57. Kemudian ada pula data
dari hasil penelitian Perpusnas tahun 2017 mengenai rendahnya budaya literasi
di Indonesia dengan angka 36,48 persen data yang tersaji, diperburuk oleh
rata-rata frekuensi membaca masyarakat Indonesia 3-4 kali per minggu dan
interval waktu membaca hanya 30-59 menit dengan jumlah konsumsi buku yang
ditamatkan per tahun sebanyak 5-9 buku. Berangkat dari data tersebut, jelas
dapat disimpulkan bahwa kegemaran akan dunia literasi di Indonesia sangat
rendah, masyarakat tidak terlalu suka membaca.
Pada kondisi pandemi seperti sekarang ini, banyak
dari kita yang akhirnya menjalankan segala aktivitas di rumah. Rutinitas yang
biasa dilakukan di luar berubah menjadi rutinitas di media online, seperti
kerja, sekolah, rapat, bahkan konser musik melalui daring. Tatkala keadaan yang
memaksa masyarakat Indonesia mengalami perubahan sosial. Perubahan sosial yang
terjadi di luar kehendak manusia. Perubahan-perubahan yang terjadi merambah
pada pola-pola perilaku, norma-norma sosial, interaksi sosial, bahkan lapisan
dalam masyarakat. Hampir segala sektor kehidupan merasakan dampak pandemi.
Mulai dari mata pencaharian, pendidikan, pariwisata, ekonomi, dsb. Semua sektor
tersebut menyelenggarakan dinamika aktivitas di dalam media online, daring
(dalam jaringan). Banyak terdapat hambatan yang cukup menyulitkan, salah
satunya kendala sinyal jaringan yang tidak mendukung jalannya aktivitas online
tersebut. Selain itu, perangkat media yang belum mampu melengkapi kebutuhan
aktivitas online secara sempurna. Efektifitas dalam bekerja atau belajar dari
rumah selama pandemi sangat buruk.
Banyak yang mengeluhkan kurang menunjangnya aplikasi-aplikasi online
yang tersedia.
Dengan adanya pandemi covid-19 yang tengah melanda
membuat masyarakat jenuh, adapula yang merasa bosan dan suntuk ketika harus
melihat handphone atau laptop secara terus menerus untuk melakukan rutinitas
harian via online. Kebanyakan orang menginginkan untuk dapat hidup normal
kembali, tidak merasa takut dan waspada berlebih. Bagi masyarakat yang merasa
jenuh dapat memulai untuk meningkatkan literasi, baik dengan membaca atau
menulis. Solusi tersebut sudah banyak diterapkan. Karena dinilai mampu
mengurangi kejenuhan dan kebosanan. Dampaknya membuat sebuah gerakan
revitalisasi semangat literasi di kala pandemi. Oleh sebab itu, pandemi
memiliki manfaat selain bisa lebih erat dengan keluarga terdekat, juga dapat
meningkatkan semangat literasi masyarakat Indonesia.
Literasi di tengah pandemi diharapkan mampu membuat individu mengembangkan potensi dan skill yang dimiliki serta menambah wawasan, esensinya untuk kesempurnaan dalam menjalani dan mencapai tujuan hidup. Namun seperti yang sudah tersaji diatas, minat masyarakat Indonesia untuk membaca masih rendah. Faktor pendorong yang begitu besar yakni rasa malas. Kebanyakan dari kita beranggapan membaca teks yang terlalu panjang cukup membosankan. Kemudian ditambah dengan banyaknya individu yang lebih senang membaca buku atau tulisan yang ada gambarnya. Hal seperti itu perlu dievaluasi. Kita harus merekonstruksikan kembali budaya literasi. Di sisi lain ada berita baik yang datang yaitu budaya literasi kian berkembang. Hal tersebut merupakan dampak adanya pandemi yang menciptakan kebiasaan membaca dapat intensifkan dan menjadi budaya.
Dengan membangun budaya membaca teks atau buku
kegemaran yang menyenangkan. Seperti novel atau majalah, semakin lama kita
membaca akan semakin dalam untuk kita mencari tahu dan kritis akan hal lain,
yang nantinya membuat kita lebih tertarik mengkonsumsi bacaan yang lebih berat.
Konsumsi bacaan dengan rutin akan membantu kita menguasai perbendaraan kata,
mudah mendefinisikan teks yang memiliki makna tinggi, hingga menjadi pribadi
yang selalu kritis dalam menerima pengetahuan atau wawasan baru. Penalaran yang baik akan membuat diri menjadi lebih bijak dan dewasa dalam menghadapi situasi atau kondisi tersulit. Perlahan
tapi pasti peningkatan dalam dunia literasi akan dapat tercapai. Proses
tersebut perlu dilatih pada setiap individu. Jangan sampai rasa malas membaca
terus mendarah daging. Oleh sebab itu, kesadaran membaca perlu di revitalisasi
kembali.
Memupuk kesadaran untuk terciptanya semangat dalam
ber-literasi butuh proses dan pengalaman. Proses yang dimaksud adalah waktu
seseorang untuk dapat fokus dan hobi membaca atau menulis, sedangkan pengalaman
adalah ketika seseorang merasakan atau sadar akan pentingnya literasi.
Lingkungan yang berperan membentuk kesadaran, dengan di bantu oleh faktor internal
yang berasal dari dalam diri. Percikan semangat dari diri sendiri mampu membakar gelora semangat literasi. Potensi yang ada harus di maksimalkan dengan baik.
Jika terus konsisten, bukan tidak mungkin minat baca
dan tulis di negara Indonesia akan meningkat drastis. Menulis dan membaca di
saat kondisi memaksa kita di rumah dapat menjadi aktivitas menarik dan efektif.
Kegiatan positif tersebut di hasilkan dari dampak negatif wabah penyakit.
Secara garis besar segala kegiatan positif pasti bermanfaat dan membuat hidup
kembali bergairah serta optimisme selalu membara. Apalagi dengan giat literasi
mampu berkontribusi menekan angka penyebaran pandemi covid-19. Turut sukseskan
program social distancing mapun pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang
dibuat pemerintah. Peluang untuk menciptakan hidup harmonis dan indah dengan di
rumah dapat berjalan optimal. Semoga semangat dalam literasi tidak hanya
diterapkan selama pandemi covid-19, tetapi bisa terus digiatkan seterusnya.
Dengan membaca dan menulis dapat mengembangkan pola pikir dan memperluas
cakrawala pengetahuan, Pengetahuan yang luas membuat pribadi menjadi lebih
bijak serta mampu subjektif dalam menerima perspektif dan opini yang beragam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar