Pernahkah merasa keheranan dengan realitas? Seperti
ketika banyak hal yang direncanakan tak tercapai, sementara hal yang tak diduga
sekalipun kerap terjadi. Terkadang kita tak pernah mengetahui apapun yang
terjadi pada kita hingga hari ini. Mungkin bagi sebagian orang hidup ini sangat
dinamis, mudah berubah, dan banyak hal yang tidak direncanakan terwujud.
Sekali lagi, mungkin ini wujud dari pemberian Tuhan
yang kata banyak orang penuh rahasia. Entahlah, yang pasti saya yakini hingga
sekarang bahwa Tuhan Maha Adil. Sehingga ini juga yang menjadi pembelajaran
bagi manusia agar tidak mudah berburuk sangka, tetap berpikir positif dan
berprasangka baik menjadi esensi pembelajaran mengenai banyaknya rahasia di
alam semesta.
Tetapi, saya tak akan berbicara banyak hal terkait
wacana dan kajian mengenai ketuhanan dan keagamaan. Sebab saya sendiri masih
belajar dan berproses, rasanya belum pantas bercerita ataupun mendeskripsikan
segala hal yang berkaitan tentang Tuhan dan agama. Saya bersyukur hingga hari
ini dapat menikmati dan mengalami hal-hal diluar keinginan saya.
Seperti misalnya pada cerita saya ini, saya pernah
bermimpi dan berangan-angan bagaimana caranya agar bisa berbicara, menjadi
teman dekat, bahkan membuat perempuan menyukai saya. Mungkin berbicara perasaan
dan relasi antar lawan jenis sangatlah kompleks dan tinggi, melebihi tingginya
menara Eiffel. Sebentar, saya ingin bertanya, boleh tidak sih di masa kecil
sudah memikirkan hal-hal seperti itu? Ah tak apa rasanya.
Ini sebagai intermezzo
saja, saya ini merupakan orang yang sangat minder, pemalu terhadap orang
khususnya lawan jenis. Bahkan untuk menatap matanya saja sudah grogi duluan.
Jujur saya ini orang yang tak berani menatap mata lawan jenis ketika berbicara,
khususnya sewaktu saya masih berada di sekolah menengah pertama (SMP) hingga
sekolah menengah atas (SMA).
Persoalan masa
lalu
Sebagai informasi, saya memiliki pengalaman yang
cukup tidak menyenangkan. Bagaimana tidak, saya pernah dijauhi hingga dibully oleh teman-teman khususnya teman
perempuan. Sebab fisik dan perilaku saya yang penyendiri, pemalu, dan grogi-an, juga hal ini yang selalu
menyadarkan saya bahwa menjadi terendah sangatlah menyakitkan.
Hingga kemudian saya mulai kembali memantik spirit
dan merangkai kepercayaan diri. Selain itu, berbicara soal bullying, sangatlah bohong rasanya jika tidak berbekas dan menjadi
rasa sakit dikemudian hari. Dari sakit itu yang biasanya menghantarkan kita
pada motivasi baru. Saya harap siapapun yang masih membiasakan diri dengan
budaya tersebut kepada sesamanya, segera ya menyadari karena jelas hukum alam
itu nyata.
Mungkin pengalaman sebagai korban bullying ini juga yang turut banyak
mengubah cara pandang dan perilaku saya dalam bersosialisasi dengan orang lain.
Kendati demikian, saya mengakui bahwa saya sangatlah dinamis dalam sikap dan
pola pikir. Berangkat dari pengalaman tersebut menjadikan saya sebagai pribadi
yang egois, dan cenderung ambisius.
Terlepas dari bully
secara pribadi, kita menyadari
cukup berat untuk bangkit dan kembali meyakini diri supaya mampu di kala orang
menertawakan, juga membuktikan bahwa yang mereka timpali itu salah. Secara umum
mampu lepas dari belenggu sakit tersebut juga butuh waktu dan proses, melupakan
hal yang menyakitkan bukan perkara mudah.
Besar kemungkinan, sebagian orang yang pernah
menjadi korban bully akan menjadikan
rasa sakit itu sebagai bara penyemangat dan pembuktian pada kehidupan
sehari-harinya kelak. Iya memang betul, hal itu terjadi, termasuk dalam proses
membangun kembali kepercayaan diri. Dari posisi terendah kembali bangkit dengan
menerima rasa sakit itu.
Termasuk saya dalam upaya mengembalikan semangat dan
motivasi diri, khususnya mimpi kecil tersebut. Dengan bekal sakit tersebut saya
hampir tak memiliki asa untuk dapat mewujudkannya. Namun dunia berkata lain,
perlahan saya menyadari jika terus menjadi seorang pecundang dengan minder dan
grogi terhadap lawan jenis, apakah bisa saya mewujudkan harapan lainnya
kedepan.
Sebab ini bukan perkara suka dan menaruh perasaan
dengan lawan jenis saja, melainkan relasi atau hubungan yang menghantarkan kita
pada kehidupan sosial. Tentunya seraya saya merangkai motivasi, serta doa yang
turut menyertai. Meskipun masih terganjal rasa sakit di masa lalu, tetapi saya
masih berusaha beradaptasi dengan memulai langkah baru.
Pelajaran
terbaik dari perjalanan
Tanpa saya sadari, dalam perjalanan ini banyak
hal-hal diluar rencana terwujud. Dalam hati, ini sudah melebihi ekspetasi,
tatkala segala menjadi lebih baik. Kala itu, memang saya berusaha untuk bisa
berkenalan dengan perempuan dan menjadi teman akrabnya, namun tidak kepikiran
bisa sampai pada hubungan spesial.
Pada waktu berikutnya, saya merasa bersyukur dapat
menjalin hubungan khusus atau biasa disebut dengan pacaran. Ini sebagai
bukti nyata, beragam hal dapat tercapai, tanpa kita sadari. Jika saya mengingat kembali, mungkin saja
Tuhan telah menunjukan kuasanya dengan memberi saya kesempatan dalam wujud
mimpi yang bagi saya telah mustahil tapi kenyataannya berhasil. Memang disisi
lain saya berusaha lepas dari belenggu pahit masa lalu, namun di lain sisi
Tuhan yang memuluskan langkahnya semakin lebih indah.
Atau mungkin juga ini adalah bagian dari skenario
terbaiknya untuk saya, yang baru menginjak usia sekian dapat diberi kepercayaan
diri, dan berani berinteraksi dengan perempuan. Entahlah, yang pasti dari
cerita ini saya dapat mengambil pelajaran bahwa sesuatu hal yang kita anggap
baik, belum tentu baik bagi Tuhan. Apa yang kita kehendaki hari ini harus
terjadi, belum tentu baik waktunya menurut Tuhan, bisa jadi Tuhan telah
menyiapkan skenario waktu yang lebih baik untuk kita.
Cerita ini menjadi representasi dari kalimat, “semua
akan indah pada waktunya”. Dengan demikian, tak pantas rasanya untuk kita
berprasangka buruk. Memang terkadang pikiran negatif atau biasa disebut dengan over thinking kerap mewarnai asumsi
kita, namun tentunya dibalik itu semua ada pelajaran terbaik yang bisa kita
tafsirkan.