Sabtu, 13 Juni 2020

Cerita Sedikit Nuansa (Part 2)


Memahami Hubungan Friendzone dan FWB Kaum MIlenial - Mata Lelaki

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun alur cerita, itu hanya kebetulan semata dan tanpa unsur kesengajaan. Ini adalah karya cerita fiktif kedua saya, Selamat membaca. Jika berkenan silahkan bisa membantu dengan memberikan saran dan kritik konstruktif. Sebab akan sangat berarti bagi kelanjutan karya serta untuk bahan evaluasi saya ke depannya. Harapannya semoga pembaca suka dan dapat bermanfaat. (Kelanjutan dari part 1)
 

Gelisah tentang perasaan
Malam menjelang pagi, namun aku masih duduk termenung diantara kegusaran terhadap Iam. Setelah mata terjaga hingga pukul 2.00 pagi. Aku mulai lelah memikirkan hal yang belum pasti tentangnya. Akhirnya ku putuskan untuk memejamkan mata mengingat besok ada kuliah pagi yang harus dihadiri. Alarm berbunyi, ya siapalagi jika bukan teman sekamar ku yang membangunkan, namanya Bella. Bella adalah partner ku sejak semester 3, awal pertemanan kami berasal kepentingan atau acara di organisasi yang kami berdua ikuti. Setelah merasa cukup nyaman dengannya aku pun memutuskan untuk menjadikannya sahabat atau partner ku, kami biasa sharing, meminta pendapat atau saran, bercanda dan berpergian bersama. Bella anak yang baik dan ramah, sama seperti ku, kami berdua tidak pernah merasakan masa pacaran, bahkan untuk Bella sendiri dia menyimpan luka dan sakit hati kepada seorang pria yang pernah dia kagumi. Aku dan dia saling mengetahui tentang segala masalah, kekurangan, dan kenangan kami. Sehingga untuk menjadi akrab bukanlah perkara sulit.

“Hei bangun, Put”, bisiknya kala membangunkan ku

“Iya, bentar dulu, btw sekarang jam berapa ya, Bel”, tanya ku

“Sudah jam 6 ini loh, tadi kamu tidak sempat sholat subuh juga, padahal aku sudah bangunkan”, celetuk nya kembali

“Iya maaf, semalam aku tidur jam 2, Bel, bingung sekali mikirin tugas nih buat besok”, alibi ku

“Yaudah segera mandi sana, aku berangkat duluan ya, sudah ditunggu nih sama Indah, kamu hati-hati jangan lupa kunci dan sembunyikan kunci kos di rak sepatu seperti biasa ya”, perintah nya (Bella langsung berangkat ke kampus dengan Indah, oh iya Indah juga salah satu teman satu kos ku, dia satu fakultas dengan Bella tapi mereka berdua berbeda fakultas dengan ku)

Aku langsung mandi dan tidak sempat sarapan. Saat aku hendak menutup pagar dari kejauhan terlihat motor raja usang yang sepertinya aku kenal pemiliknya melaju cepat ke arah kos ku. Sontak aku penasaran dan keheranan, karena aku seperti tak asing dengan motor tersebut, namun tidak mengetahui wajah pengendara sebab dia mengenakan helm full face. Setelah kendaraanya tiba di hadapan ku, aku baru menyadari jika itu adalah Iam, ya seorang pujangga yang sedang aku rindukan dan menjadi bunga di hati ku saat ini. Aku tidak menyangka sepagi ini dia menjemput, dalam hati ku bertanya, apa dia tidak ada jam kuliah, lalu darimana dia mengetahui jam kuliah ku, padahal aku tidak mengabarinya dari semalam setelah sorenya kami berdua pergi. Kemudian dia langsung membuka helm dan menatap ku dengan wajah sok manisnya itu,

“Hai kakak, kita berangkat bareng yuk”, sapa dan godanya

“Ah Iam.. jangan sekarang ya, aku mau buru-buru, minggir ih, aku harus berangkat sendiri”, jawab ku dengan gaya sok jual mahal supaya dia memaksa ku

“Jangan berangkat sendiri, didepan lapangan sedang ada razia, kamu kan belum punya sim, lagipula aku ingin bercerita lagi dengan mu, Kakak”, gumam Iam yang mencoba merayu ku

“Yah apa boleh buat, yaudah lah aku bareng kamu”, keluh ku (Masih dengan nada yang tidak suka, padahal aku memang mengharapkan berangkat bareng dengannya)

Akhirnya kami berangkat bareng, ketika melewati lapangan benar katanya tadi, disana terdapat razia. Untung saja aku bareng dengannya, ucap ku dalam hati tenang. Dan ternyata benar, dia bercerita  tentang kejadian kurang mengenakan yang menimpanya semalam, bila ada salah seorang yang suka dengan Iam yang memaksa ingin menjadi pacarnya. Wajar sih, Iam sendiri menurut sebagian besar orang merupakan pria yang cukup tampan, baik, dewasa, dan seorang aktivis. Perempuan mana yang tidak suka dengannya, mungkin sangat beruntung seorang perempuan yang bisa menjadi pacar atau mantannya sekali pun.

Aku mengakui jika Iam memiliki paras yang lumayan ganteng, bersih kulitnya, dan cukup menarik sebagai teman dekat. Tak bisa membohongi perasaan bahwa aku memang menyukainya terlebih dia memiliki kepribadian yang humoris dan pendengar yang baik. Selain itu, aku kagum dengan pemikirannya, cara dia menghadapi sesuatu. Itulah yang membuat ku tertarik. Setelah aku sadari ternyata aku sedang diam termenung entah memikirkannya atau mencoba menyadari tentang posisi ku saat ini. Aku mencoba menghiraukan asumsi-asumsi liar ku dan berpikir jernih layaknya posisi kami saat ini yaitu teman.  

Aku memberikan saran kepadanya supaya dia menolak dengan baik-baik menggunakan alasan yang tidak menyakiti atau menyinggung orang tersebut. Ya jika berangkat dari ceritanya sebelumnya, ini bukan kali pertama dia di goda oleh perempuan. Sudah banyak yang ingin menjadi pacarnya, dia selalu bersikap ramah dan baik kepada siapapun tidak heran jika dia menjadi rebutan orang sekampus. Setelah sampai di parkiran fakultas, kami berdua turun dan masuk ke gedung kampus. Kami berbeda fakultas sehingga kami berpisah dan harus menuju ruangan kelas masing-masing.

Di kelas aku terus memikirkannya, aku menanyakan pada diri sendiri tentang perasaan ku padanya. Aku tak yakin jika benar-benar cinta, karena aku rasa di awal hanya penasaran yang muncul kepadanya, tapi entah mengapa sekarang aku sedikit minder dan cemburu ketika dia menceritakan perempuan-perempuan lain disekitarnya. Tiba-tiba teman sekelas ku Indra dan Rizal mengagetkan ku dengan Indra menepuk bahu ku,

“Woi, kenapa sih lu diam saja, aneh lu bengong dari awal pak dosen kritik presentator”, tanya Indra pada ku

“Wajar kayaknya Putri lagi suka sama orang nih gaiss, dari semalam dia bikin snap bucin terus nih”, sahut Rizal dari belakang kursi ku

“Hmm.. tidak aku hanya sedang ngantuk, tadi malam aku tidur larut sekali”, gumam ku

Mereka nyeloteh dan meledek ku, mereka tahu aku hanya beralibi. Karena kami terlihat ngobrol sendiri tak memperhatikan dosen. Akhirnya kami di tegur oleh bapak dosen,

“Hei kalian ini, sekali lagi berisik akan saya keluarkan ya, jangan seperti anak SMP/SMA lah, kalian ini !”, Tegur pak Dosen

“Iya maaf, Pak, tadi mereka berdua yang mengajak saya bicara”, gumam ku

“Loh enak saja, kamu yang mulai juga tadi loh, coba kalau kamu tidak bengong kami tidak menegur mu”, Jawab Rizal

Mata kuliah di lanjutkan dan kami menunduk malu atas teguran dari dosen. Jam menunjukan pukul 12 siang memaksa kami mengakhiri perkuliahan siang hari ini. Aku langsung mengecek whatsapp untuk menghubungi nomor Iam, namun nomornya mati, kemudian aku mencoba pergi ke kantin dimana Bella dan Indah biasa makan. Aku bertemu mereka bertiga dan menceritakan kekesalan ku akibat di tegur dosen dan perasaan ku kepada Iam. Sembari memesan makan untuk sarapan aku berterus terang tentang kondisi hubungan pertemanan ku kepada mereka berdua.

Mereka memahami tentang perasaan ku saat ini, antara bimbang dan senang. Karena tak tahu mengapa sejak bersama Iam aku selalu merasa aman dan nyaman. Hari-hari juga terasa indah, semua menyenangkan apalagi ketika dia mengajak ku pergi. Hanya ada dia mungkin di hati ku saat ini. Bella dan Indah hanya mendengarkan cerita ku, mereka belum memberi saran seperti biasanya atau memulai gosip untuk di jadikan topik pembicaraan.


Rabu, 03 Juni 2020

Ombak Kerinduan

Ada pertanyaan tersirat
Tentang kisah klasik
Juga sebuah skenario 
Yang pernah terukir diantara kita
Mengapa kita pisah
Tanpa sebab dan alasan
Tak jelas aku atau kamu yang menjauh
Yang pasti pagi ku sudah berubah
Tanpa dering notif dari mu lagi
Padahal kita telah mengarungi 
Rentetan samudera perjalanan yang sama
Bukan hanya tentang kamu seorang
Tapi ada aku yang berusaha juga menyatukan frekuensi
Sebagai mantan pasang hati 
Mestinya kamu tahu tentang kegusaran ku
Gelisah dan kecewa tentang kata pergi
Ini bukan lagi perihal penjelajahan asmara aku
Namun ini semua berkaitan dengan upaya ku
Yang telah berjuang lama
Supaya nostalgia bersemi kembali
Jika begini? 
Untuk apa melampiaskan kenangan
Yang hanya beredar di hati salah seorang saja

*OMBAK KERINDUAN, 2020

Cerita Sedikit Nuansa (Part 1)




Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun alur cerita, itu hanya kebetulan semata dan tanpa unsur kesengajaan. Ini adalah karya cerita fiktif kedua saya, Selamat membaca. Jika berkenan silahkan bisa membantu dengan memberikan saran dan kritik konstruktif. Sebab akan sangat berarti bagi kelanjutan karya serta untuk bahan evaluasi saya ke depannya. Harapannya semoga pembaca suka dan dapat bermanfaat.
 

Prolog

Aku adalah seorang perempuan yang sebagian besar teman ku mengatakan diriku orang yang humble, humoris, ceria, mandiri, dan memiliki pemikiran yang dewasa. Aku biasa di panggil dengan nama Putri. Lahir di Ibukota Negara yakni Jakarta, aku sudah biasa dengan kehidupan keras, dan lingkungan pergaulan yang buruk. Tapi aku bisa membatasi pergaualan, sehingga menjaga dan menerapkan etika sosial masih melekat padaku. Di usia ku yang ingin menginjak usia 21, aku memilih menyibukan diri di kegiatan organisasi, sukarelawan, dan juga mengisi waktu luang ku untuk mengajar anak di pelosok melalui program volunteer yang ku ikuti. Lumayan untuk menambah jam terbang (pengalaman) dan uang untuk menunjang kehidupan ku di kota rantau. Aku menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di kota Semarang. Memiliki masa lalu yang selalu gagal dalam fase hubungan percintaan menjadikan ku perempuan dengan tipe cuek dan mandiri. Tidak terlalu membutuhkan lelaki untuk hubungan serius, prinsip ku tidak ingin menjalin cinta yang serius. Aku memiliki 2 teman kos yang bernama Bella dan Indah, mereka masih satu universitas dengan ku tetapi berbeda fakultas dan jurusan. Saat ini aku tengah mencoba membuka hati untuk orang lain.

Bertemu untuk mendekat

Waktu menunjukan matahari akan berganti posisi. Di tengah keheningan, si pengharap sedang menunggu di sudut pelataran. Sembari meminum greentea hangat buatan teman ku. Ada tetesan keringat yang memberi tanda bahwa aku sedang gelisah menunggu seseorang. Entah mengharapkan apa dari yang ku tunggu, yang pasti raut ketegangan tampak jelas menghiasi wajah ku. Tak lama berselang, dari kejauhan terdengar suara yang berasal dari knalpot motor raja usang. Perasaan gusar ku berubah menjadi senyum manis bahagia, tatkala menyadari bunyi tersebut berasal dari kendaraan seorang pria.


Motor raja usang tiba di kediaman ku. Pengendara menghentakan kaki untuk memulai langkah. Kemudian si pengendara yang memiliki nama panggilan Iam mengitari beberapa rumah untuk memastikan kos aku. Di kala pencarian, dia terdiam melihat selembar kaos berwarna kuning berada di jemuran depan, yang jika tidak salah dia mengenalinya. Motif yang begitu identik, melekat di ingatannya karena mirip dengan kaos terdahulu.


“Aku datang, tunggu ya…”, kata ku. Membuat Iam hanya menunggu di atas jok kendaraannya. Setelah itu, dia melihat dari kejauhan tampak samar bayangan yang perlahan mendekati pintu keluar. dia memperhatikan seorang wanita berperawakan tinggi, berisi, dengan kulit sawo matang mengenakan kerudung dipadukan dengan kaos panjang. Siapa lagi jika bukan aku. Seketika dia terbuai, terbesit mengingat manakala pancaran sinar aura yang hampir sama dilihatnya dulu ternyata berasal dari lekuk wajah manis ku. Terdapati dirinya di balik senyuman seorang wanita penuh dengan asmara. Memang kata sebagian orang diri ku penuh pesona.


Diri ku yang sudah menunggu lama kedatangan Iam, hanya bisa tersenyum kecil ketika melihat dia duduk termenung. Tanpa pikir panjang kami berdua berboncengan mengendarai motor raja usang. Tampak gugup kami berdua, namun kami terus saling berbicara dan bercerita di kala perjalanan. Untuk menciptakan dialektika dan kedekatan emosi yang sudah mulai terbangun. Sesampai di lokasi, aku terus memandangi Iam yang berada disamping. Betapa kagum dan tertarik dengan dia yang selama ini hanya bisa bercakap melalui media online. Sebab juga sudah terasa lama kami berdua tak saling menyapa dan menatap. Sepanjang perjalanan keduanya hanya menceritakan dan menanyakan kembali pertanyaan-pertanyaan yang selama ini terpedam, yang tak berani diutarakan. Selesai beraktivitas aku terus memandangi dia hingga dilokasi parkir. Pikir ku, dia akan menjaga dan bertanggung jawab atas perasaan. Kami melakukan perjalanan kembali untuk pulang, dia mengantarkan ku ke kos.


Ini adalah kali perdana kami merencanakan bertemu, sebab di pertemuan pertama kami belum begitu dekat bahkan cukup tahu nama saja. Karena pada saat itu ada kepentingan di acara yang sama, kami saling menyimpan nomor whatsapp dan hanya berkomunikasi online seperti sebatas membalas snap whatsapp. Pertemuan ini sangat menyenangkan untuk ku, bagaimana tidak, aku kembali menerima ajakan seorang pria untuk mencoba saling mengenal satu sama lain. Iam sebenarnya adalah pria yang memiliki kesibukan di luar akademisnya, dia adalah seorang aktivis, dan pegiat sosial. Hobinya tak jauh dengan literasi, diskusi, dan aksi, kepentingan di organisasinya. Begitu pun dengan aku, sehingga untuk mencapai proses kita ini juga pastinya butuh pendekatan, sebab aku memang humble tapi terkesan cuek dengan orang asing atau bukan teman ku. Bersyukur rasanya bisa pergi bersamanya.


Sesampainya di kos, aku langsung meletakan handphone dan bergegas membersihkan diri. Setelah semua selesai, aku termenung dengan perasaan tak tentu, ada senang, ragu, takut hingga sedih. Harapan ku semoga hubungan ini dapat terus berlanjut, karena aku merasa sudah sefrekuensi dengan Iam. Banyak cerita hidup ku yang sudah diketahui dia begitupun sebaliknya. Termasuk kisah cinta ku yang belum pernah menjalin hubungan bernama pacaran. Ada keinginan dan harapan bahwa dia lah yang dapat memutus rekor status lajang ku ini. Tetapi semua itu bukan hal mudah, butuh proses dan pendekatan lebih lanjut.




Kita #1

Kita merupakan cerita yang panjang untuk menjadi kisah.  Juga cinta yang pernah begitu berwarna dalam hidupku.  Mengenalmu adalah kebahagiaa...