Senin, 22 Februari 2021

Kita #1


Kita merupakan cerita yang panjang untuk menjadi kisah. 

Juga cinta yang pernah begitu berwarna dalam hidupku. 

Mengenalmu adalah kebahagiaan yang belum tentu bisa aku tukarkan oleh apapun. 

Semula kita adalah dua insan yang identik dengan kata saling dan corak kesamaan lainnya. Saling berbagi dan banyak hal yang jelas tak mudah ku dapatkan pada perempuan lain. Pun tanpa sengaja kita pernah saling memberi harap. 

Namun kini, kita tetaplah kita. Semua tetap sama, tetapi ada rona yang berbeda. Dan kini baru ku sadari, kita yang sekarang telah menjadi asing. Entah siapa yang berniat, mungkin saja aku, yang dulu pernah khilaf. Atau bisa saja kamu, yang memang hendak memanfaatkan momentum. 

Ah entahlah, yang jelas kita yang sangat dekat dulu, adalah kita yang aku rindukan sekarang. Jauh dari ego dan prinsip yang berlawanan. Meskipun begitu, aku masih tak menganggap itu benci. Sulit aku mengatakan kamu adalah orang terjahat. Sebab bagaimanapun juga, kamu yang sudah banyak berkontribusi untuk aku bisa sampai pada titik ini sekarang. 

Seorang bidadari yang begitu berarti.

Dalam perjalanan hidup ini.

Sekali lagi.

Terima kasih, Kekasih.

Rabu, 04 November 2020

Skenario Perjalanan


 

Pernahkah merasa keheranan dengan realitas? Seperti ketika banyak hal yang direncanakan tak tercapai, sementara hal yang tak diduga sekalipun kerap terjadi. Terkadang kita tak pernah mengetahui apapun yang terjadi pada kita hingga hari ini. Mungkin bagi sebagian orang hidup ini sangat dinamis, mudah berubah, dan banyak hal yang tidak direncanakan terwujud.

Sekali lagi, mungkin ini wujud dari pemberian Tuhan yang kata banyak orang penuh rahasia. Entahlah, yang pasti saya yakini hingga sekarang bahwa Tuhan Maha Adil. Sehingga ini juga yang menjadi pembelajaran bagi manusia agar tidak mudah berburuk sangka, tetap berpikir positif dan berprasangka baik menjadi esensi pembelajaran mengenai banyaknya rahasia di alam semesta.

Tetapi, saya tak akan berbicara banyak hal terkait wacana dan kajian mengenai ketuhanan dan keagamaan. Sebab saya sendiri masih belajar dan berproses, rasanya belum pantas bercerita ataupun mendeskripsikan segala hal yang berkaitan tentang Tuhan dan agama. Saya bersyukur hingga hari ini dapat menikmati dan mengalami hal-hal diluar keinginan saya.

Seperti misalnya pada cerita saya ini, saya pernah bermimpi dan berangan-angan bagaimana caranya agar bisa berbicara, menjadi teman dekat, bahkan membuat perempuan menyukai saya. Mungkin berbicara perasaan dan relasi antar lawan jenis sangatlah kompleks dan tinggi, melebihi tingginya menara Eiffel. Sebentar, saya ingin bertanya, boleh tidak sih di masa kecil sudah memikirkan hal-hal seperti itu? Ah tak apa rasanya.

Ini sebagai intermezzo saja, saya ini merupakan orang yang sangat minder, pemalu terhadap orang khususnya lawan jenis. Bahkan untuk menatap matanya saja sudah grogi duluan. Jujur saya ini orang yang tak berani menatap mata lawan jenis ketika berbicara, khususnya sewaktu saya masih berada di sekolah menengah pertama (SMP) hingga sekolah menengah atas (SMA).

Persoalan masa lalu

Sebagai informasi, saya memiliki pengalaman yang cukup tidak menyenangkan. Bagaimana tidak, saya pernah dijauhi hingga dibully oleh teman-teman khususnya teman perempuan. Sebab fisik dan perilaku saya yang penyendiri, pemalu, dan grogi-an, juga hal ini yang selalu menyadarkan saya bahwa menjadi terendah sangatlah menyakitkan.

Hingga kemudian saya mulai kembali memantik spirit dan merangkai kepercayaan diri. Selain itu, berbicara soal bullying, sangatlah bohong rasanya jika tidak berbekas dan menjadi rasa sakit dikemudian hari. Dari sakit itu yang biasanya menghantarkan kita pada motivasi baru. Saya harap siapapun yang masih membiasakan diri dengan budaya tersebut kepada sesamanya, segera ya menyadari karena jelas hukum alam itu nyata.

Mungkin pengalaman sebagai korban bullying ini juga yang turut banyak mengubah cara pandang dan perilaku saya dalam bersosialisasi dengan orang lain. Kendati demikian, saya mengakui bahwa saya sangatlah dinamis dalam sikap dan pola pikir. Berangkat dari pengalaman tersebut menjadikan saya sebagai pribadi yang egois, dan cenderung ambisius.

Terlepas dari bully secara pribadi, kita menyadari cukup berat untuk bangkit dan kembali meyakini diri supaya mampu di kala orang menertawakan, juga membuktikan bahwa yang mereka timpali itu salah. Secara umum mampu lepas dari belenggu sakit tersebut juga butuh waktu dan proses, melupakan hal yang menyakitkan bukan perkara mudah.

Besar kemungkinan, sebagian orang yang pernah menjadi korban bully akan menjadikan rasa sakit itu sebagai bara penyemangat dan pembuktian pada kehidupan sehari-harinya kelak. Iya memang betul, hal itu terjadi, termasuk dalam proses membangun kembali kepercayaan diri. Dari posisi terendah kembali bangkit dengan menerima rasa sakit itu.

Termasuk saya dalam upaya mengembalikan semangat dan motivasi diri, khususnya mimpi kecil tersebut. Dengan bekal sakit tersebut saya hampir tak memiliki asa untuk dapat mewujudkannya. Namun dunia berkata lain, perlahan saya menyadari jika terus menjadi seorang pecundang dengan minder dan grogi terhadap lawan jenis, apakah bisa saya mewujudkan harapan lainnya kedepan.

Sebab ini bukan perkara suka dan menaruh perasaan dengan lawan jenis saja, melainkan relasi atau hubungan yang menghantarkan kita pada kehidupan sosial. Tentunya seraya saya merangkai motivasi, serta doa yang turut menyertai. Meskipun masih terganjal rasa sakit di masa lalu, tetapi saya masih berusaha beradaptasi dengan memulai langkah baru.

Pelajaran terbaik dari perjalanan

Tanpa saya sadari, dalam perjalanan ini banyak hal-hal diluar rencana terwujud. Dalam hati, ini sudah melebihi ekspetasi, tatkala segala menjadi lebih baik. Kala itu, memang saya berusaha untuk bisa berkenalan dengan perempuan dan menjadi teman akrabnya, namun tidak kepikiran bisa sampai pada hubungan spesial.

Pada waktu berikutnya, saya merasa bersyukur dapat menjalin hubungan khusus atau biasa disebut dengan pacaran. Ini sebagai bukti nyata, beragam hal dapat tercapai, tanpa kita sadari.  Jika saya mengingat kembali, mungkin saja Tuhan telah menunjukan kuasanya dengan memberi saya kesempatan dalam wujud mimpi yang bagi saya telah mustahil tapi kenyataannya berhasil. Memang disisi lain saya berusaha lepas dari belenggu pahit masa lalu, namun di lain sisi Tuhan yang memuluskan langkahnya semakin lebih indah.

Atau mungkin juga ini adalah bagian dari skenario terbaiknya untuk saya, yang baru menginjak usia sekian dapat diberi kepercayaan diri, dan berani berinteraksi dengan perempuan. Entahlah, yang pasti dari cerita ini saya dapat mengambil pelajaran bahwa sesuatu hal yang kita anggap baik, belum tentu baik bagi Tuhan. Apa yang kita kehendaki hari ini harus terjadi, belum tentu baik waktunya menurut Tuhan, bisa jadi Tuhan telah menyiapkan skenario waktu yang lebih baik untuk kita.

Cerita ini menjadi representasi dari kalimat, “semua akan indah pada waktunya”. Dengan demikian, tak pantas rasanya untuk kita berprasangka buruk. Memang terkadang pikiran negatif atau biasa disebut dengan over thinking kerap mewarnai asumsi kita, namun tentunya dibalik itu semua ada pelajaran terbaik yang bisa kita tafsirkan.

Selasa, 03 November 2020

Samar Kontemplasi

Arsip Pribadi


Dari kejauhan objek itu tampak temaram

Hanya pantulan yang seolah hadir melangkah 

Mata sendunya pun masih enggan merekah

Turut membuat ilusi makin menjadi

Hingga harus mengingat lagi

Album cerita yang telah lama terkubur

Juga berbagai perasaan yang nihil terukur

Perlahan aromanya mulai merebak

Semakin dekat ia melangkah

Ketara bayangnya kian merapat

Menyebabkan reduplikasi nostalgia

**

Dan benar,

Itu semua fatamorgana semata

Yang sedang tergiring oleh fantasinya saja

Reka imajinasi sudah lampau terlewati

Sembari menyadarkan tentang suatu fiksi


Senin, 02 November 2020

Kamu



Kamu,

Hadirmu, menggambarkan tentang keindahan hidup

Menghibur di kala suntuk dan sedih

Menjadi pendengar yang baik saat semua mengacukan

Memberikan apapun yang kamu bisa untuk kebahagiaan

 

Kamu,

Selalu mendorong agar ku tetap optimis

Selalu mengajak ku pada ketentraman hati

Selalu memberi motivasi tatkala ku sedang letih

Selalu mengucapkan kalimat manis yang mendarat di telinga

 

Kamu,

Masih mampu memberikan senyum di setiap jengkal kesedihanmu sendiri

Masih mampu menguatkan tatkala dirimu sedang rapuh

Masih mampu menjaga disaat kamu masih terpuruk

Masih mampu pula menerima di kala pikiran dan hatimu hancur

 

Kamu,

Ada beragam untaian kata dari ku yang sangat layak kamu dapat

Ada beragam kebahagiaan yang sedang ku konsep demi dirimu

Ada beragam usaha yang sedang ku upayakan agar membuat mu bahagia

Ada beragam mimpi yang sedang bersiap ku persembahkan untukmu

**

Terimakasih telah selalu ada

Menguatkan dan mengisi  hari

Menyempurnakan kebahagiaan di setiap detiknya

Memberi kenangan di setiap perjalanannya

Ada seratus tangkai kebahagiaan yang masih ku konsep untuk mu, aku, dan kita kelak.


Rumah


Rumah,

Katanya, ialah tempat kamu menetap ataupun singgah

Juga biasa digambarkan sebagai lahan

Dimana kita dapat bertahan dari kerasnya jalan

 

Rumah,

Kamu hadir sebagai penenang

Membawa harapan dan angan kami kedepan

Sebagai tempat bersandar paling nyaman

 

Rumah,

Benar, kamu tempat saya berkeluh-kesah

Sebagai penyeimbang antara luar dan dalam

Memberi makna kesimpulan dari suatu perjalanan

***

Kamu hadir di kala senja ku pulang

Dan fajar ku datang

Turut pula menemani keseharian ku

Kamu tak pernah lelah menjadi pendengar yang setia

Terimakasih, tentram dan bahagia berada disekitarmu.


Jumat, 28 Agustus 2020

Dapatkah Kita Dekat Kembali




“Assalamualaikum, Bi” (Kalimat pembuka)

Halo kawan-kawan. Bagaimana kabarnya? Semoga kita semua dapat selalu diberikan kesehatan dan keselamatan, serta dijauhkan dari pandemi ini. Yaps.. Setelah sekian lama, saya tidak berdialektika kembali dengan tulisan dalam blog pribadi ini.

Semoga saya, kamu, dan kita dapat selalu ceria, dan diberikan kesabaran dalam menghadapi hidup ini. Juga selalu berdoa untuk dapat kuat melewati masa-masa pandemi ini.

Sebelumnya saya akan memberitahu, ini hanya tulisan biasa, dan didalamnya akan terdapat banyak motif dari sudut pandang (tokoh) “saya”, yang mungkin akan mengakibatkan multitafsir. Di dalamnya juga terdapat harapan, dan sedikit keluh kesah dari saya pribadi, yang hingga kini entah saya pribadi “bingung” mau dikategorikan tulisan apa.

Yang jelas dari alur, sudut pandang dan tokoh “saya bukan menggambarkan atau menceritakan orang lain. Jika ada kesamaan hanya kebetulan. Interpretasi dari saya pribadi.

Kalian paham tidak, mengapa seseorang mudah datang dan pergi dalam kehidupan ini, maknanya ini luas loh.., namun tidak begitu rumit untuk dipahami (jangan memahami hanya sebelah mata nanti kayak keadilan dong).

“Ups…Hadeuh ngape kesono-sono”

Iya, saya pun heran, hati sulit ditebak pula ketika mengenal beragam “karakter” yang menghampiri diri (ini bukan berarti saya sok perfect ya, tapi berbicara kehadiran dan kepergian orang lain secara umum).

Ada yang pergi dan datang dengan “rasa” yang berbeda. “Lha kok bisa” entah lah, saya juga masih memahami,  “rasa” pada konteks ini lebih menjurus kemana. Hati kecil saya mengatakan bahwa rasa adalah kondisi nyaman kita pada seseorang tersebut atau lawan komunikasi kita.

Akan tetapi, pikiran saya juga menegaskan yakni ikatan emosional yang sudah merebah keseluruh jiwa, sehingga apa yang muncul dalam diri adalah rasa “suka” atau “tidak suka”. Sudah ada pelabelan tersendiri, tapi cukuplah, fokus pembahasan kita bukan disitu.   

Langsung saja “to the point” kehilangan seseorang yang membuat nyaman merupakan hal besar yang sangat menyakiti, seolah segala “rasa” dalam diri digerogoti, anggap saja seperti kehilangan nafsu atau gairah. “Sepakat atau tidak??”

Saya tidak bisa pungkiri, saya menyadari betul jikalau saya salah dalam beberapa hal hingga menyebabkan beberapa orang pergi. Saya sempat memberontak dengan emosi begitu tinggi. Sebab saya tak bisa menerimanya.

Ketika sudah bersusah payah membangun relasi, kedekatan emosional dengan orang lain. Atau bahkan membuka komunikasi yang lebih luas dan prospeknya jauh kedepan, namun tanpa disangka karena hal sepele yang terkadang sering diabaikan hubungan baik dengan seseorang dapat memudar.

Bahkan saya paham, dan mungkin kalian semua merasakan hal yang sama, ketika hubungan dengan teman, pacar, mantan, saudara semakin jauh, disebabkan karena kelalaian kita dalam “memanage” diri kita, menjadikan kita pribadi yang bijak dalam bersosialisasi.

Sampai pada titik saya mulai mengakui, “keegoisan, serakah, ambisi, tempramen, sombong, angkuh, kasar”, hal-hal tersebut yang seakan menghancurkan segalanya. Apapun yang sedang saya bangun tatkala saya tak mampu mengontrol diri maka akan menjatuhkan diri saya sendiri, dan menjauhkan dari circle persekawanan.

Iya.. Saya buruk, saya cukup angkuh, egois, ambisi, dan ragam penyakit hati lainnya. Karena hal itu jembatan penghubung menjadi renggang. Tapi itu semua sudah terjadi bukan, saya harus melangkah lebih baik dan bijak kedepannya.

Jadi saya mengharapkan bahwa kamu yang sedang tersakiti atau merasa kecewa, dapatkah kita kembali bersama, menjalin hubungan baik, atau sekedar bercerita panjang-lebar kembali. Kita bersua, melupakan segala kesalahan masing-masing, serta selalu beri support terbaik, agar dapat mewujudkan impian kita kembali.

Terimakasih atas waktu dan tenaganya dalam menyempatkan diri membaca tulisan ini, tulisan yang sebenarnya saya tuju kepada kawan-kawan saya. Semoga dapat bermanfaat. Jika penasaran dan banyak pertanyaan bisa menghubungi saya melalui kolom komentar atau japri aja ya.

 

Jumat, 03 Juli 2020

KITA DAN KENANGAN #1



Selamat membaca. Jika berkenan silahkan bisa membantu dengan memberikan saran dan kritik konstruktif. Sebab akan sangat berarti bagi kelanjutan karya serta untuk bahan evaluasi penulis ke depannya. Harapannya semoga pembaca suka dan dapat bermanfaat. Tulisan “KITA DAN KENANGAN PART 1” terdiri dari Prolog, Awal untuk sembuh, Melampiaskan, Adaptasi, dan Menyatukan frekuensi kembali.

Prolog
Dahulu sewaktu senja tiba, seringkali kita melepaskan penat dengan berjalan-jalan. Aku yang mengendarai dengan dia dibelakang ku. Masih berbekas pelukan yang hari itu tampak mustahil terlepas. Begini sekiranya penggalan coretan yang tepat untuk kita kala itu,  

Angan menyapu segala ingatan
Tentang sebuah alunan nada yang pernah kamu nyanyikan
Atau tentang suratan kegelisahan
Tatkala pecundang ini luput dari sebuah kegagalan
Seketika kamu hadir dengan kesabaran
Pelbagai cara kamu hiburkan
Hanya untuk manusia yang katamu tampan
Masih ingatkah sore itu ditengah taman
Kita bersua disamping tukang sapu jalan
Mungkin ketika aku ucapkan “sayang”
Sembari kening yang bersih itu ku berikan ciuman
Dengan kamu mengucapkan,
“Tak apa semua tidak hanya tentang kesuksesan”
Lalu mengapa sekarang kamu membuatku terpuruk oleh kenangan.

Awal Untuk Sembuh
(Sudut pandang penulis) Selepas hari itu segalannya terasa menjadi lebih baik. Benar kata salah seorang sastrawan, untuk menyembuhkan sakit (hati) kamu hanya perlu menuliskannya. Tidak perlu bertengkar dengan perasaan. Konflik batin yang kamu ciptakan tidak rumit. Semua hanya butuh memaafkan dan dimaafkan. Apalagi jika kamu sudah berdamai dengan sosok pemicu api konflik tersebut. Pada akhirnya semua hanya meninggalkan kata ‘ikhlas’.
Kamu mengetahui luka yang diberikan oleh salah seorang yang pernah kamu sayang tak akan abadi, sebab sedalam atau sesakit apapun akan bertemu waktunya untuk pulih. Mungkin dengan kamu membiasakan kata ikhlas dalam keseharianmu atau bisa juga dengan menerima dia didalam cerita hidupmu akan sembuh sendirinya. Dengan mengukir dia dalam ruang hati dan ingatan, mungkin bisa membuatmu terluka, akan tetapi itu sudah menjadi sejarah hidup yang tak boleh menyerang atau menyakitimu. Kendalikan kenangan tersebut agar dapat memberikan nuansa indah tersendiri bagi hidupmu. Yang pasti selama kamu menyimpannya dengan baik maka luka tak akan beraksi kembali di imajinasi.
Sembuh itu mudah, selama kamu ingin memulainya. Kamu bisa dapatkan itu jika sudah bersepakat dengan diri sendiri supaya luka tak menyebar kemana-mana. Memulai melakukan aktivitas yang baru dan positif, itu dapat menyenangkan diri sendiri. Terlebih jika ada yang membantu atau mendorongmu melakukan hal baru tersebut. Dukungan orang sekitar untuk sembuh lebih baik daripada hanya terdiam dan menangisi keadaan. Lalu kamu bertanya, cara meredam rasa sakit dimasa lalu tidak akan sembuh jika hanya dengan teori belaka kan. Iya, benar tepat sekali. Cara meredamnya adalah dengan kamu melakukan praktiknya secara langsung. Selain itu, kamu boleh berkegiatan di lapangan yang cenderung bisa membantu kamu mengolah pikiran buruk atas kenangan tersebut. Selagi masih bisa diperbaiki maka kamu harus optimis untuk tetap yakin bahwa rasa sakit akan segera hilang.

Melampiaskan  
Pernah terlintas dibenak bahwa cara terbaik melupakan dengan mencari kembali. Namun, apakah hasil tidak akan berujung sama? Coba pikirkan ulang, jika kamu mendapati kejadian yang sama terulang kembali. Bukankah hasilnya akan semakin menyakitkan. Analogi seperti ini, ekspetasinya berharap sang lubang akan tertutup, tapi justru malah akan memperlebar ukuran lubang tersebut. Lantas perasaan bukan untuk dimainkan bukan. Jika kamu melampiaskannya kepada orang lain dan kamu merasa tidak nyaman atau tidak sesuai ekspetasimu, namun orang yang kamu lampiaskan merasa bahagia dan nyaman bersamamu. Pada akhirnya dia akan merasa kehilanganmu jika kamu tidak membalas perasaannya atau bahkan kamu meninggalkannya. Cukup egois bukan? Coba pikirkan kembali. Jangan sampai yang maksud dan niat mu baik terhadap diri sendiri malah menyebabkan orang lain terugikan dan kecewa,
Kamu meyakinkan bahwa semua bak-baik saja. Demi mendukung pernyataan tersebut, kamu rela membawa embel-embel Teman. Padahal seharusnya kamu paham, teman ada batas yang tak membawa-bawa instrumen perasaan. Pikirmu dia akan tenang dan tak terpengaruh retorika cintamu, itu salah. Yang sesungguhnya terjadi dia tergiring pada obsesinya untuk mendapatkanmu. Silahkan kamu berargumen demikian dengan melawan hati dan perasaanmu. Tapi asal kamu tahu, tidak semua orang terbiasa dengan hubungan yang tiba-tiba datang, intens, lalu hilang begitu saja. Sedangkan kamu masih yakin dia tetap tidak terluka atau normal. Padahal kenyataanya sangat mustahil, jika dia bukan orang yang acuh.
Seyogyanya jangan kamu memberi harapan kepada orang lain, meskipun motif yang kamu lakukan tak seperti yang orang lain tersebut pikirkan. Karena terkadang rasa cinta muncul akibat kenyamanan yang didapat, sehingga apa yang terkadang kita kehendaki demikian akan berbeda hasil dengan realitasnya. Supaya hal tersebut tidak menjadi salah paham, diawal bisa kamu yakinkan bahwa hubungan dekat ini hanya sebatas teman, tidak lebih dan tidak juga kurang. Anggapan mendasar tersebut bisa kamu beritahu ke dia, tapi dengan bahasa atau hal yang tidak menyakiti atau menyinggung perasaannya. Lebih pantas lagi ketika kamu tidak sering menggoda atau bahasa trennya ‘gombal’ kepadanya.
Memang dengan hadirnya orang baru dapat membuat luka menjadi pulih, namun yang perlu di ingat, acapkali kamu sebagai orang yang tersakiti menjadi terbawa suasana atau meniru kebiasaan orang yang menyakitimu dahulu. Hal tersebut bisa dilampiaskan kepada orang baru di hidupmu. Kondisi ini berada dibawah alam sadarmu. Harapannya kamu dapat dengan bijak mengontrol kondisi yang sedang kamu jalani sekarang, agar tak ada korban baru yang salah tangkap maupun salah menilai perasaanmu padanya.

Adaptasi
Secara pemikiran yang luas, kamu pasti menyadari tak ada yang lebih buruk dari sekedar menjadikan orang lain kelinci percobaan atau pelampiasanmu. Dengan sudut pandang universal membuat kamu menjadi lebih bijak pasca kecewa dan patah hati. Kamu tidak akan mencoba orang lain untuk merasakan sakit yang sama dari kejadian pernah kamu alami. Ada dorongan untuk menjadi lebih kuat dan tegar atas sakit yang kamu rasakan. Terutama bila ada orang baru yang mampu mengisi hari-harimu.
Sosok baru yang mengisi hari-hari barumu sekarang bukan datang tanpa alasan, semua sudah menjadi skenario dari yang maha kuasa. Hingga kamu tak mampu pungkiri pertolongan Tuhan bisa datang darimana saja. Termasuk orang baru entah sebagai calon teman dekat maupun calon pendamping hidup. Yang pasti harapan dari dalam lubuk hatimu dia tidak menjadi mantan-mantan berikutnya. Terkadang sesuatu yang tak masuk akal bisa menjadi bonus kebahagiaanmu, seperti suatu yang tak disangka inilah yang ternyata merupakan hasil terbaik yang Tuhan berikan padamu.
Adaptasi merupakan suatu proses transisi dari posisi yang sebelumnya tersakiti perlahan kembali menemukan titik terang kebahagiaannya kembali. Pikiran dan suasana hati kembali terbuka dan indah. Demikian juga dengan kehidupan yang kembali bergairah. Ada dorongan semangat untuk membuktikan bahwa kamu bisa hidup tanpanya yang pernah menyakiti, dan lebih menjadi orang yang berdikari. Pendirian dan prinsip kian teguh, seperti tak akan patah lagi. Itu adalah titik kebangkitanmu dari segenap rasa sakit akibat kecewa dan patah hati.
Saat ini ada beberapa opsi yang bisa kamu perankan, layaknya menjadi pendengar yang setia atau pembicara yang baik. Kamu sedang menyesuaikan diri dengan sosok baru, jangan mengulang kembali kesedihan yang pernah terjadi. Mencoba mencari celah nyaman padanya. Juga berharap supaya kamu dan dia dapat mengukir kisah yang indah. Luar biasa !! Ada sekelumit cita-cita baru dengan dia. Pasti banyak orang yang ingin mengetahui hubungan barumu tersebut. Tapi tenang, ini baru pendekatan sudah jelas arahnya belum pasti persentase ketercapaiannya. Kamu hanya perlu menjalani dengan ikhlas tanpa perlu menengok kembali ke belakang. Biarlah luka itu tertutup dengan sendirinya. Nantinya jika jodoh kamu akan bahagia tentunya dengan dia sebagai orang baru yang beruntung bisa memenangkan hatimu.  
Hal yang kerap terjadi adalah ketika kamu sedang kecewa, sedih, down, dan sebagainya, kamu terlalu mudah untuk pesimis dan merasa gagal atas semuanya. Tapi tanpa kamu sadari Tuhan sudah memberikan alur yang terbaik untukmu. Dari yang pertama terjatuh, dikecewakan, dan merasa gagal sampai bisa bangkit kembali, didalam setiap masalah atau kesulitan selalu terselubung jalan yang membuka kesuksesan dan menciptakan intuisi senang serta ceriamu. Kesempatan yang harus tetap selalu disyukuri, kendalanya adalah sering kamu terlanjur berduka dalam kesedihan, tanpa mau mencari solusinya.

Menyatukan frekuensi kembali
Proses belajar yaitu dengan saling memahami dan mengenali karakter masing-masing antara kamu dan dia sebagai orang baru dapat mensinkronisasikan emosi. Jika emosi diantara kamu dan dia sudah terbangun akan dipastikan timbul rasa nyaman, baik kamu ataupun dia.  Dari kenyamanan inilah yang akan membuat mudah kehidupan baru bagi kedua calon pasangan. Berkah yang fantastik apalagi jika kamu sudah dapat menjinakan ingatanmu terhadap luka yang diberikan mantan. Bukan persoalan yang rumit berdialektika perasaan jika sudah mencapai tahap tersebut. Untuk mencapai satu frekuensi tidak akan sulit, sebab kamu sedang dalam adaptasi kebiasaan baru kepadanya, begitupun sebalinya.
Kata sebagian besar orang paling indah masa pendekatan, dimana ada dua orang yang baru mengenal dan ingin berjuang untuk menyatukan perasaan, frekuensi, dan tindakan. Saya sebagai penulis sepakat untuk mengatakan ungkapan tersebut benar. Karena kebanyakan dari manusia memiliki penasaran tingkat tinggi kepada hal baru yang dia sukai, mulai dari barang atau orang. Tidak heran jika masa yang dibilang berbunga-bunga tiba saat manusia terjatuh pada pandangan pertama.
            Pada tahap memulai frekuensi kembali dengan orang baru hal yang kamu butuhkan yaitu kesabaran dalam menanti proses, pasrahkan pada waktu mau dibawa kemana hubungan barumu. Yang jelas kamu sudah siapkan diri supaya layak untuk menjalin hubungan kembali, entah akan jodoh atau tidak yang penting jangan mudah memberikan label gagal pada diri sendiri. Terus asah dan percaya diri, karena dengan hal positif yang sedang kamu usahakan itu akan membawa kenyamanan diri sendiri untuk bercakap dan berkomunikasi. Tidak mudah gugup, kehabisan topik pembicaraan, dan diam. Semuanya akan berjalan mengalir.
            Dalam menyatukan frekuensi, diawal kamu boleh coba memahami apa kesukaan dan ketidaksukaan calon pasangan barumu. Tapi sebelum masuk kesana, pastikan kamu benar-benar mengenali karakternya. Sebab dengan paham karakter aslinya, kamu hanya butuh mengetahui apa yang menjadi kegemarannya dan mengetahui batasan kekurangan atau kelebihan antara dia maupun kamu. Agar kalian dapat saling melengkapi dan membantu mengatasi masalah satu sama lain. Memperbaiki diri dibantu dengan pasangan pastinya menjadi lebih mudah. Upaya yang harus dibangun tidaklah sulit, cukup mengalir, pergunakan etika sopan santun, dan juga dengan obrolan ringan yang tentunya dia tak menyadari.
            Sebisa mungkin hindarkan ucapan langsung maupun tidak langsung frontal, lebay kepadanya, karena seringkali kita masih terbawa kebiasaan bergaul dengan yang lama menggunakan bahasa yang sudah sangat lepas alias frontal, hingga kita membiasakan pada orang baru. Itu kurang tepat, jika ingin frontal pastikan dia tidak tersinggung, terbiasa juga, dan lihatlah gaya komunikasi maupun ekspresinya. Tidak semua orang bisa kita sama ratakan dalam bergaul, pintar beradaptasi adalah solusinya, dengan kamu mengenali karakternya pasti akan terhindar dari kesalahpahaman. Mungkin sedikit banyak kamu harus ‘jaga image’, ‘jaga marwah’ kepada orang baru tersebut, sebab penilaian yang paling utama adalah diawal perkenalan dan tahap pendekatan. Berisiko bila kamu tidak bisa menjaga atau mengontrol diri pasca memutuskan menjalani hubungan dekat.
            Urusan komitmen, hal mudah yang terpenting kamu dan dia sama-sama yakin ingin mengenal lebih dalam antara satu sama lain. Selain itu, dalam hubungan apapun konsistensi sangat diperluhkan. Jangan sampai kamu hanya sebatas penasaran diawal, lalu kamu tinggalkan begitu saja. Jika begitu namanya sama saja dengan pelampiasan. Kesalahan dari kebanyakan orang yang gagal memulai hubungan baru adalah masih suka terbawa rasa sakit hati atau kecewa dengan pasangan sehingga ada indikasi meniru yang dilakukan pelaku padanya kepada orang baru seperti yang sudah dijelaskan diparagraf sebelumnya. Juga terlalu nyaman dengan zona pertemanan karena dia belum pernah menjalin hubungan serius dengan orang lain.
Dengan kamu saling melengkapi dan mencoba mengetahui lebih jauh tentang diri calon pasangan barumu akan dengan sendirinya rasa nyaman hadir. Selanjutnya tinggal waktu dan tempat yang mengeksekusi keduanya menjadi hubungan lebih serius. Yang dimaksud waktu dan tempat adalah tingkat seringnya kamu berpergian ataupun menjalin komunikasi jarak jauh (chat) dengannya. Nanti dengan berjalannya waktu skala prioritas antara kamu dan dia juga tercipta. Kamu akan menjadikan dia prioritasmu maupun sebaliknya. Dengan demikian proses penyatuan frekuensi akan berjalan sukses, hal yang perlu diingat adalah tunjukan sisi baikmu terlebih dahulu, dan jaga diri agar terlihat berkelas untuk dia sukai.

Kita #1

Kita merupakan cerita yang panjang untuk menjadi kisah.  Juga cinta yang pernah begitu berwarna dalam hidupku.  Mengenalmu adalah kebahagiaa...