
“Assalamualaikum, Bi” (Kalimat
pembuka)
Halo
kawan-kawan. Bagaimana kabarnya? Semoga kita semua dapat selalu diberikan
kesehatan dan keselamatan, serta dijauhkan dari pandemi ini. Yaps.. Setelah
sekian lama, saya tidak berdialektika kembali dengan tulisan dalam blog pribadi
ini.
Semoga
saya, kamu, dan kita dapat selalu ceria, dan diberikan kesabaran dalam
menghadapi hidup ini. Juga selalu berdoa untuk dapat kuat melewati masa-masa
pandemi ini.
Sebelumnya
saya akan memberitahu, ini hanya tulisan biasa, dan didalamnya akan terdapat
banyak motif dari sudut pandang (tokoh) “saya”, yang mungkin akan mengakibatkan
multitafsir. Di dalamnya juga terdapat harapan, dan sedikit keluh kesah dari
saya pribadi, yang hingga kini entah saya pribadi “bingung” mau dikategorikan
tulisan apa.
Yang jelas dari alur, sudut pandang
dan tokoh “saya bukan menggambarkan atau menceritakan orang lain. Jika ada
kesamaan hanya kebetulan. Interpretasi dari saya pribadi.
Kalian
paham tidak, mengapa seseorang mudah datang dan pergi dalam kehidupan ini,
maknanya ini luas loh.., namun tidak begitu rumit untuk dipahami (jangan memahami hanya sebelah mata nanti
kayak keadilan dong).
“Ups…Hadeuh
ngape kesono-sono”
Iya,
saya pun heran, hati sulit ditebak pula ketika mengenal beragam “karakter” yang
menghampiri diri (ini bukan berarti saya
sok perfect ya, tapi berbicara kehadiran dan kepergian orang lain secara umum).
Ada
yang pergi dan datang dengan “rasa” yang berbeda. “Lha kok bisa” entah lah,
saya juga masih memahami, “rasa” pada
konteks ini lebih menjurus kemana. Hati kecil saya mengatakan bahwa rasa adalah
kondisi nyaman kita pada seseorang tersebut atau lawan komunikasi kita.
Akan
tetapi, pikiran saya juga menegaskan yakni ikatan emosional yang sudah merebah
keseluruh jiwa, sehingga apa yang muncul dalam diri adalah rasa “suka” atau “tidak
suka”. Sudah ada pelabelan tersendiri, tapi cukuplah, fokus pembahasan kita
bukan disitu.
Langsung
saja “to the point” kehilangan seseorang yang membuat nyaman merupakan hal
besar yang sangat menyakiti, seolah segala “rasa” dalam diri digerogoti, anggap
saja seperti kehilangan nafsu atau gairah. “Sepakat atau tidak??”
Saya
tidak bisa pungkiri, saya menyadari betul jikalau saya salah dalam beberapa hal
hingga menyebabkan beberapa orang pergi. Saya sempat memberontak dengan emosi
begitu tinggi. Sebab saya tak bisa menerimanya.
Ketika
sudah bersusah payah membangun relasi, kedekatan emosional dengan orang lain.
Atau bahkan membuka komunikasi yang lebih luas dan prospeknya jauh kedepan,
namun tanpa disangka karena hal sepele
yang terkadang sering diabaikan hubungan
baik dengan seseorang dapat memudar.
Bahkan
saya paham, dan mungkin kalian semua merasakan hal yang sama, ketika hubungan
dengan teman, pacar, mantan, saudara semakin jauh, disebabkan karena kelalaian
kita dalam “memanage” diri kita, menjadikan kita pribadi yang bijak dalam
bersosialisasi.
Sampai
pada titik saya mulai mengakui, “keegoisan, serakah, ambisi, tempramen, sombong,
angkuh, kasar”, hal-hal tersebut yang seakan menghancurkan segalanya. Apapun
yang sedang saya bangun tatkala saya tak mampu mengontrol diri maka akan
menjatuhkan diri saya sendiri, dan menjauhkan dari circle persekawanan.
Iya..
Saya buruk, saya cukup angkuh, egois, ambisi, dan ragam penyakit hati lainnya.
Karena hal itu jembatan penghubung menjadi renggang. Tapi itu semua sudah
terjadi bukan, saya harus melangkah lebih baik dan bijak kedepannya.
Jadi
saya mengharapkan bahwa kamu yang sedang tersakiti atau merasa kecewa, dapatkah
kita kembali bersama, menjalin hubungan baik, atau sekedar bercerita
panjang-lebar kembali. Kita bersua, melupakan segala kesalahan masing-masing,
serta selalu beri support terbaik,
agar dapat mewujudkan impian kita kembali.
Terimakasih
atas waktu dan tenaganya dalam menyempatkan diri membaca tulisan ini, tulisan
yang sebenarnya saya tuju kepada kawan-kawan saya. Semoga dapat bermanfaat.
Jika penasaran dan banyak pertanyaan bisa menghubungi saya melalui kolom
komentar atau japri aja ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar