Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun alur cerita, itu hanya kebetulan semata dan tanpa unsur kesengajaan. Ini adalah karya cerita fiktif kedua saya, Selamat membaca. Jika berkenan silahkan bisa membantu dengan memberikan saran dan kritik konstruktif. Sebab akan sangat berarti bagi kelanjutan karya serta untuk bahan evaluasi saya ke depannya. Harapannya semoga pembaca suka dan dapat bermanfaat. (Kelanjutan dari part 1)
Gelisah tentang perasaan
Malam menjelang pagi, namun aku masih duduk termenung diantara
kegusaran terhadap Iam. Setelah mata terjaga hingga pukul 2.00 pagi. Aku mulai
lelah memikirkan hal yang belum pasti tentangnya. Akhirnya ku putuskan untuk
memejamkan mata mengingat besok ada kuliah pagi yang harus dihadiri. Alarm
berbunyi, ya siapalagi jika bukan teman sekamar ku yang membangunkan, namanya
Bella. Bella adalah partner ku sejak semester 3, awal pertemanan kami berasal
kepentingan atau acara di organisasi yang kami berdua ikuti. Setelah merasa
cukup nyaman dengannya aku pun memutuskan untuk menjadikannya sahabat atau
partner ku, kami biasa sharing, meminta pendapat atau saran, bercanda dan
berpergian bersama. Bella anak yang baik dan ramah, sama seperti ku, kami
berdua tidak pernah merasakan masa pacaran, bahkan untuk Bella sendiri dia
menyimpan luka dan sakit hati kepada seorang pria yang pernah dia kagumi. Aku
dan dia saling mengetahui tentang segala masalah, kekurangan, dan kenangan
kami. Sehingga untuk menjadi akrab bukanlah perkara sulit.
“Hei bangun, Put”, bisiknya kala membangunkan ku
“Iya, bentar dulu, btw sekarang jam berapa ya, Bel”, tanya ku
“Sudah jam 6 ini loh, tadi kamu tidak sempat sholat subuh juga,
padahal aku sudah bangunkan”, celetuk nya kembali
“Iya maaf, semalam aku tidur jam 2, Bel, bingung sekali mikirin
tugas nih buat besok”, alibi ku
“Yaudah segera mandi sana, aku berangkat duluan ya, sudah ditunggu
nih sama Indah, kamu hati-hati jangan lupa kunci dan sembunyikan kunci kos di
rak sepatu seperti biasa ya”, perintah nya (Bella langsung berangkat ke kampus
dengan Indah, oh iya Indah juga salah satu teman satu kos ku, dia satu fakultas
dengan Bella tapi mereka berdua berbeda fakultas dengan ku)
Aku langsung mandi dan tidak sempat sarapan. Saat aku hendak
menutup pagar dari kejauhan terlihat motor raja usang yang sepertinya aku kenal
pemiliknya melaju cepat ke arah kos ku. Sontak aku penasaran dan keheranan,
karena aku seperti tak asing dengan motor tersebut, namun tidak mengetahui
wajah pengendara sebab dia mengenakan helm full face. Setelah kendaraanya tiba
di hadapan ku, aku baru menyadari jika itu adalah Iam, ya seorang pujangga yang
sedang aku rindukan dan menjadi bunga di hati ku saat ini. Aku tidak menyangka
sepagi ini dia menjemput, dalam hati ku bertanya, apa dia tidak ada jam kuliah,
lalu darimana dia mengetahui jam kuliah ku, padahal aku tidak mengabarinya dari
semalam setelah sorenya kami berdua pergi. Kemudian dia langsung membuka helm
dan menatap ku dengan wajah sok manisnya itu,
“Hai kakak, kita berangkat bareng yuk”, sapa dan godanya
“Ah Iam.. jangan sekarang ya, aku mau buru-buru, minggir ih, aku
harus berangkat sendiri”, jawab ku dengan gaya sok jual mahal supaya dia
memaksa ku
“Jangan berangkat sendiri, didepan lapangan sedang ada razia, kamu
kan belum punya sim, lagipula aku ingin bercerita lagi dengan mu, Kakak”, gumam
Iam yang mencoba merayu ku
“Yah apa boleh buat, yaudah lah aku bareng kamu”, keluh ku (Masih
dengan nada yang tidak suka, padahal aku memang mengharapkan berangkat bareng
dengannya)
Akhirnya kami berangkat bareng, ketika melewati lapangan benar
katanya tadi, disana terdapat razia. Untung saja aku bareng dengannya, ucap ku
dalam hati tenang. Dan ternyata benar, dia bercerita tentang
kejadian kurang mengenakan yang menimpanya semalam, bila ada salah seorang yang
suka dengan Iam yang memaksa ingin menjadi pacarnya. Wajar sih, Iam sendiri
menurut sebagian besar orang merupakan pria yang cukup tampan, baik, dewasa,
dan seorang aktivis. Perempuan mana yang tidak suka dengannya, mungkin sangat
beruntung seorang perempuan yang bisa menjadi pacar atau mantannya sekali pun.
Aku mengakui jika Iam memiliki paras yang lumayan ganteng, bersih
kulitnya, dan cukup menarik sebagai teman dekat. Tak bisa membohongi perasaan
bahwa aku memang menyukainya terlebih dia memiliki kepribadian yang humoris dan
pendengar yang baik. Selain itu, aku kagum dengan pemikirannya, cara dia
menghadapi sesuatu. Itulah yang membuat ku tertarik. Setelah aku sadari
ternyata aku sedang diam termenung entah memikirkannya atau mencoba menyadari
tentang posisi ku saat ini. Aku mencoba menghiraukan asumsi-asumsi liar ku dan
berpikir jernih layaknya posisi kami saat ini yaitu teman.
Aku memberikan saran kepadanya supaya dia menolak dengan baik-baik
menggunakan alasan yang tidak menyakiti atau menyinggung orang tersebut. Ya
jika berangkat dari ceritanya sebelumnya, ini bukan kali pertama dia di goda
oleh perempuan. Sudah banyak yang ingin menjadi pacarnya, dia selalu bersikap
ramah dan baik kepada siapapun tidak heran jika dia menjadi rebutan orang
sekampus. Setelah sampai di parkiran fakultas, kami berdua turun dan masuk ke
gedung kampus. Kami berbeda fakultas sehingga kami berpisah dan harus menuju
ruangan kelas masing-masing.
Di kelas aku terus memikirkannya, aku menanyakan pada diri sendiri
tentang perasaan ku padanya. Aku tak yakin jika benar-benar cinta, karena aku
rasa di awal hanya penasaran yang muncul kepadanya, tapi entah mengapa sekarang
aku sedikit minder dan cemburu ketika dia menceritakan perempuan-perempuan lain
disekitarnya. Tiba-tiba teman sekelas ku Indra dan Rizal mengagetkan ku dengan
Indra menepuk bahu ku,
“Woi, kenapa sih lu diam saja, aneh lu bengong dari awal pak dosen
kritik presentator”, tanya Indra pada ku
“Wajar kayaknya Putri lagi suka sama orang nih gaiss, dari semalam
dia bikin snap bucin terus nih”, sahut Rizal dari belakang kursi ku
“Hmm.. tidak aku hanya sedang ngantuk, tadi malam aku tidur larut
sekali”, gumam ku
Mereka nyeloteh dan meledek ku, mereka tahu aku hanya beralibi.
Karena kami terlihat ngobrol sendiri tak memperhatikan dosen. Akhirnya kami di
tegur oleh bapak dosen,
“Hei kalian ini, sekali lagi berisik akan saya keluarkan ya,
jangan seperti anak SMP/SMA lah, kalian ini !”, Tegur pak Dosen
“Iya maaf, Pak, tadi mereka berdua yang mengajak saya bicara”,
gumam ku
“Loh enak saja, kamu yang mulai juga tadi loh, coba kalau kamu
tidak bengong kami tidak menegur mu”, Jawab Rizal
Mata kuliah di lanjutkan dan kami menunduk malu atas teguran dari
dosen. Jam menunjukan pukul 12 siang memaksa kami mengakhiri perkuliahan siang
hari ini. Aku langsung mengecek whatsapp untuk menghubungi nomor Iam, namun
nomornya mati, kemudian aku mencoba pergi ke kantin dimana Bella dan Indah
biasa makan. Aku bertemu mereka bertiga dan menceritakan kekesalan ku akibat di
tegur dosen dan perasaan ku kepada Iam. Sembari memesan makan untuk sarapan aku
berterus terang tentang kondisi hubungan pertemanan ku kepada mereka berdua.
Mereka memahami tentang perasaan ku saat ini, antara bimbang dan
senang. Karena tak tahu mengapa sejak bersama Iam aku selalu merasa aman dan
nyaman. Hari-hari juga terasa indah, semua menyenangkan apalagi ketika dia
mengajak ku pergi. Hanya ada dia mungkin di hati ku saat ini. Bella dan Indah
hanya mendengarkan cerita ku, mereka belum memberi saran seperti biasanya atau memulai
gosip untuk di jadikan topik pembicaraan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar