Cerita ini
hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun
alur cerita, itu hanya kebetulan semata dan tanpa unsur kesengajaan. Ini adalah
karya cerita fiktif kedua saya, Selamat membaca. Jika berkenan silahkan bisa
membantu dengan memberikan saran dan kritik konstruktif. Sebab akan sangat
berarti bagi kelanjutan karya serta untuk bahan evaluasi saya ke depannya.
Harapannya semoga pembaca suka dan dapat bermanfaat.
Prolog
Aku
adalah seorang perempuan yang sebagian besar teman ku mengatakan diriku orang
yang humble, humoris, ceria, mandiri, dan memiliki pemikiran yang dewasa. Aku
biasa di panggil dengan nama Putri. Lahir di Ibukota Negara yakni Jakarta, aku
sudah biasa dengan kehidupan keras, dan lingkungan pergaulan yang buruk. Tapi
aku bisa membatasi pergaualan, sehingga menjaga dan menerapkan etika sosial
masih melekat padaku. Di usia ku yang ingin menginjak usia 21, aku memilih
menyibukan diri di kegiatan organisasi, sukarelawan, dan juga mengisi waktu
luang ku untuk mengajar anak di pelosok melalui program volunteer yang ku
ikuti. Lumayan untuk menambah jam terbang (pengalaman) dan uang untuk menunjang
kehidupan ku di kota rantau. Aku menempuh pendidikan di salah satu perguruan
tinggi negeri yang ada di kota Semarang. Memiliki masa lalu yang selalu gagal
dalam fase hubungan percintaan menjadikan ku perempuan dengan tipe cuek dan
mandiri. Tidak terlalu membutuhkan lelaki untuk hubungan serius, prinsip ku
tidak ingin menjalin cinta yang serius. Aku memiliki 2 teman kos yang bernama
Bella dan Indah, mereka masih satu universitas dengan ku tetapi berbeda
fakultas dan jurusan. Saat ini aku tengah mencoba membuka hati untuk orang lain.
Bertemu untuk
mendekat
Waktu
menunjukan matahari akan berganti posisi. Di tengah keheningan, si pengharap
sedang menunggu di sudut pelataran. Sembari meminum greentea hangat buatan
teman ku. Ada tetesan keringat yang memberi tanda bahwa aku sedang gelisah
menunggu seseorang. Entah mengharapkan apa dari yang ku tunggu, yang pasti raut
ketegangan tampak jelas menghiasi wajah ku. Tak lama berselang, dari kejauhan
terdengar suara yang berasal dari knalpot motor raja usang. Perasaan gusar ku
berubah menjadi senyum manis bahagia, tatkala menyadari bunyi tersebut berasal
dari kendaraan seorang pria.
Motor
raja usang tiba di kediaman ku. Pengendara menghentakan kaki untuk memulai
langkah. Kemudian si pengendara yang memiliki nama panggilan Iam mengitari
beberapa rumah untuk memastikan kos aku. Di kala pencarian, dia terdiam melihat
selembar kaos berwarna kuning berada di jemuran depan, yang jika tidak salah
dia mengenalinya. Motif yang begitu identik, melekat di ingatannya karena mirip
dengan kaos terdahulu.
“Aku
datang, tunggu ya…”, kata ku. Membuat Iam hanya menunggu di atas jok
kendaraannya. Setelah itu, dia melihat dari kejauhan tampak samar bayangan yang
perlahan mendekati pintu keluar. dia memperhatikan seorang wanita berperawakan
tinggi, berisi, dengan kulit sawo matang mengenakan kerudung dipadukan dengan
kaos panjang. Siapa lagi jika bukan aku. Seketika dia terbuai, terbesit
mengingat manakala pancaran sinar aura yang hampir sama dilihatnya dulu
ternyata berasal dari lekuk wajah manis ku. Terdapati dirinya di balik senyuman
seorang wanita penuh dengan asmara. Memang kata sebagian orang diri ku penuh
pesona.
Diri
ku yang sudah menunggu lama kedatangan Iam, hanya bisa tersenyum kecil ketika
melihat dia duduk termenung. Tanpa pikir panjang kami berdua berboncengan
mengendarai motor raja usang. Tampak gugup kami berdua, namun kami terus saling
berbicara dan bercerita di kala perjalanan. Untuk menciptakan dialektika dan
kedekatan emosi yang sudah mulai terbangun. Sesampai di lokasi, aku terus
memandangi Iam yang berada disamping. Betapa kagum dan tertarik dengan dia yang
selama ini hanya bisa bercakap melalui media online. Sebab juga sudah terasa
lama kami berdua tak saling menyapa dan menatap. Sepanjang perjalanan keduanya
hanya menceritakan dan menanyakan kembali pertanyaan-pertanyaan yang selama ini
terpedam, yang tak berani diutarakan. Selesai beraktivitas aku terus memandangi
dia hingga dilokasi parkir. Pikir ku, dia akan menjaga dan bertanggung jawab
atas perasaan. Kami melakukan perjalanan kembali untuk pulang, dia
mengantarkan ku ke kos.
Ini
adalah kali perdana kami merencanakan bertemu, sebab di pertemuan pertama kami
belum begitu dekat bahkan cukup tahu nama saja. Karena pada saat itu ada
kepentingan di acara yang sama, kami saling menyimpan nomor whatsapp dan hanya
berkomunikasi online seperti sebatas membalas snap whatsapp. Pertemuan ini
sangat menyenangkan untuk ku, bagaimana tidak, aku kembali menerima ajakan
seorang pria untuk mencoba saling mengenal satu sama lain. Iam sebenarnya
adalah pria yang memiliki kesibukan di luar akademisnya, dia adalah seorang
aktivis, dan pegiat sosial. Hobinya tak jauh dengan literasi, diskusi, dan
aksi, kepentingan di organisasinya. Begitu pun dengan aku, sehingga untuk
mencapai proses kita ini juga pastinya butuh pendekatan, sebab aku memang
humble tapi terkesan cuek dengan orang asing atau bukan teman ku. Bersyukur
rasanya bisa pergi bersamanya.
Sesampainya
di kos, aku langsung meletakan handphone dan bergegas membersihkan diri.
Setelah semua selesai, aku termenung dengan perasaan tak tentu, ada senang,
ragu, takut hingga sedih. Harapan ku semoga hubungan ini dapat terus berlanjut,
karena aku merasa sudah sefrekuensi dengan Iam. Banyak cerita hidup ku yang
sudah diketahui dia begitupun sebaliknya. Termasuk kisah cinta ku yang belum
pernah menjalin hubungan bernama pacaran. Ada keinginan dan harapan bahwa dia
lah yang dapat memutus rekor status lajang ku ini. Tetapi semua itu bukan hal
mudah, butuh proses dan pendekatan lebih lanjut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar