Rabu, 03 Juni 2020

Cerita Sedikit Nuansa (Part 1)




Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun alur cerita, itu hanya kebetulan semata dan tanpa unsur kesengajaan. Ini adalah karya cerita fiktif kedua saya, Selamat membaca. Jika berkenan silahkan bisa membantu dengan memberikan saran dan kritik konstruktif. Sebab akan sangat berarti bagi kelanjutan karya serta untuk bahan evaluasi saya ke depannya. Harapannya semoga pembaca suka dan dapat bermanfaat.
 

Prolog

Aku adalah seorang perempuan yang sebagian besar teman ku mengatakan diriku orang yang humble, humoris, ceria, mandiri, dan memiliki pemikiran yang dewasa. Aku biasa di panggil dengan nama Putri. Lahir di Ibukota Negara yakni Jakarta, aku sudah biasa dengan kehidupan keras, dan lingkungan pergaulan yang buruk. Tapi aku bisa membatasi pergaualan, sehingga menjaga dan menerapkan etika sosial masih melekat padaku. Di usia ku yang ingin menginjak usia 21, aku memilih menyibukan diri di kegiatan organisasi, sukarelawan, dan juga mengisi waktu luang ku untuk mengajar anak di pelosok melalui program volunteer yang ku ikuti. Lumayan untuk menambah jam terbang (pengalaman) dan uang untuk menunjang kehidupan ku di kota rantau. Aku menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di kota Semarang. Memiliki masa lalu yang selalu gagal dalam fase hubungan percintaan menjadikan ku perempuan dengan tipe cuek dan mandiri. Tidak terlalu membutuhkan lelaki untuk hubungan serius, prinsip ku tidak ingin menjalin cinta yang serius. Aku memiliki 2 teman kos yang bernama Bella dan Indah, mereka masih satu universitas dengan ku tetapi berbeda fakultas dan jurusan. Saat ini aku tengah mencoba membuka hati untuk orang lain.

Bertemu untuk mendekat

Waktu menunjukan matahari akan berganti posisi. Di tengah keheningan, si pengharap sedang menunggu di sudut pelataran. Sembari meminum greentea hangat buatan teman ku. Ada tetesan keringat yang memberi tanda bahwa aku sedang gelisah menunggu seseorang. Entah mengharapkan apa dari yang ku tunggu, yang pasti raut ketegangan tampak jelas menghiasi wajah ku. Tak lama berselang, dari kejauhan terdengar suara yang berasal dari knalpot motor raja usang. Perasaan gusar ku berubah menjadi senyum manis bahagia, tatkala menyadari bunyi tersebut berasal dari kendaraan seorang pria.


Motor raja usang tiba di kediaman ku. Pengendara menghentakan kaki untuk memulai langkah. Kemudian si pengendara yang memiliki nama panggilan Iam mengitari beberapa rumah untuk memastikan kos aku. Di kala pencarian, dia terdiam melihat selembar kaos berwarna kuning berada di jemuran depan, yang jika tidak salah dia mengenalinya. Motif yang begitu identik, melekat di ingatannya karena mirip dengan kaos terdahulu.


“Aku datang, tunggu ya…”, kata ku. Membuat Iam hanya menunggu di atas jok kendaraannya. Setelah itu, dia melihat dari kejauhan tampak samar bayangan yang perlahan mendekati pintu keluar. dia memperhatikan seorang wanita berperawakan tinggi, berisi, dengan kulit sawo matang mengenakan kerudung dipadukan dengan kaos panjang. Siapa lagi jika bukan aku. Seketika dia terbuai, terbesit mengingat manakala pancaran sinar aura yang hampir sama dilihatnya dulu ternyata berasal dari lekuk wajah manis ku. Terdapati dirinya di balik senyuman seorang wanita penuh dengan asmara. Memang kata sebagian orang diri ku penuh pesona.


Diri ku yang sudah menunggu lama kedatangan Iam, hanya bisa tersenyum kecil ketika melihat dia duduk termenung. Tanpa pikir panjang kami berdua berboncengan mengendarai motor raja usang. Tampak gugup kami berdua, namun kami terus saling berbicara dan bercerita di kala perjalanan. Untuk menciptakan dialektika dan kedekatan emosi yang sudah mulai terbangun. Sesampai di lokasi, aku terus memandangi Iam yang berada disamping. Betapa kagum dan tertarik dengan dia yang selama ini hanya bisa bercakap melalui media online. Sebab juga sudah terasa lama kami berdua tak saling menyapa dan menatap. Sepanjang perjalanan keduanya hanya menceritakan dan menanyakan kembali pertanyaan-pertanyaan yang selama ini terpedam, yang tak berani diutarakan. Selesai beraktivitas aku terus memandangi dia hingga dilokasi parkir. Pikir ku, dia akan menjaga dan bertanggung jawab atas perasaan. Kami melakukan perjalanan kembali untuk pulang, dia mengantarkan ku ke kos.


Ini adalah kali perdana kami merencanakan bertemu, sebab di pertemuan pertama kami belum begitu dekat bahkan cukup tahu nama saja. Karena pada saat itu ada kepentingan di acara yang sama, kami saling menyimpan nomor whatsapp dan hanya berkomunikasi online seperti sebatas membalas snap whatsapp. Pertemuan ini sangat menyenangkan untuk ku, bagaimana tidak, aku kembali menerima ajakan seorang pria untuk mencoba saling mengenal satu sama lain. Iam sebenarnya adalah pria yang memiliki kesibukan di luar akademisnya, dia adalah seorang aktivis, dan pegiat sosial. Hobinya tak jauh dengan literasi, diskusi, dan aksi, kepentingan di organisasinya. Begitu pun dengan aku, sehingga untuk mencapai proses kita ini juga pastinya butuh pendekatan, sebab aku memang humble tapi terkesan cuek dengan orang asing atau bukan teman ku. Bersyukur rasanya bisa pergi bersamanya.


Sesampainya di kos, aku langsung meletakan handphone dan bergegas membersihkan diri. Setelah semua selesai, aku termenung dengan perasaan tak tentu, ada senang, ragu, takut hingga sedih. Harapan ku semoga hubungan ini dapat terus berlanjut, karena aku merasa sudah sefrekuensi dengan Iam. Banyak cerita hidup ku yang sudah diketahui dia begitupun sebaliknya. Termasuk kisah cinta ku yang belum pernah menjalin hubungan bernama pacaran. Ada keinginan dan harapan bahwa dia lah yang dapat memutus rekor status lajang ku ini. Tetapi semua itu bukan hal mudah, butuh proses dan pendekatan lebih lanjut.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kita #1

Kita merupakan cerita yang panjang untuk menjadi kisah.  Juga cinta yang pernah begitu berwarna dalam hidupku.  Mengenalmu adalah kebahagiaa...